Selasa, 15 September 2020

Makalah Budidaya Tanaman Tahunan

 


 KAKAO (Theobroma cacao L.)

I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kakao merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang hasil produknya berupa coklat. Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis dan peluang pasar yang cukup tinggi. Kakao merupakan satu-satunya diantara 22 jenis keluarga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Dewasa ini minat masyarakat terhadap produk dari tanaman ini kian meningkat. Hal ini terlihat pada tingkat kecenderungan pasar dunia yang semakin tinggi dengan kebutuhan hasil panen dengan rata-rata 1,5 juta ton per tahun. Seperti yang telah diketahui bahwa kakao juga merupakan komoditas ekspor urutan ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Tanaman ini merupakan salah satu komoditas ekspor yang tergolong cukup potensial untuk menambah devisa negara. Kakao juga memiliki segmen pasar yang cukup stabil dengan harga yang relatif mahal, sehingga usaha peningkatan kualitas hasil selalu dilakukan agar kakao tetap penting sebagai salah satu barang dagang non migas.

B.     Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk:

a.       Mengetahui karakter kakao

b.      Mengetahui beberapa jenis kakao

c.       Mengetahui teknis budidaya tanaman

d.      Mengetahui kesesuaian lahan berdasarkan karakteristik lahan   

II.                ISI

Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas budidaya tahunan yang menghasilkan produk jadi berupa coklat. Secara umum, berikut adalah klasifikasi tanaman kakao:

Kingdom         : Plantae

Division           : Magnoliophyta

Class               : Magnoliosidae

Ordo                : Malvales

Familly           : Malvaceae (Sterculiaceae)

Genus             : Theobroma

Species            : Theobroma cacao (Jumanta, 2019).

Kakao merupakan tanaman yang berasal dari wilayah Amerika Selatan. Tanaman ini memiliki ketinggian mencapai 10 meter, namun untuk industri biasanya tidak dibiarkan melebihi 5 meter dan diperbesar secara menyamping untuk memperbanyak cabang bakal buah yang produktif. Buah kakao muncul dari bunga yang telah diserbuki dengan tipe penyerbukan cross-pollinate. Buah berwarna hijau-ungu pada saat muda dan berwarna kuning ketika telah masak. Biji pada buah tumbuh dari bagian pangkal buah, di bagian dalam biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih atau yang biasa disebut pulp (Jumanta, 2019). Untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal, penanaman tanaman tahunan terutama kakao hendaknya disesuaikan dengan syarat tumbuh yang dikehendakinya karena tanaman ini akan hidup dalam kurun waktu yang lama sehingga pemilihan lokasi hendaknya disesuaikan. Beberapa syarat tumbuh tanaman kakao yaitu menghendaki ketinggian 0-600 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun dan suhu maksimum 30-32oC suhu minimum 18-21oC, kondisi lahan dengan kemiringan <45% dan kedalaman olah <150 cm, memiliki komposisi struktur tanah berupa pasir 50%, debu 10-20%, dan lempung berpasir 30-40%, dan toleransi pH tanah dengan kisaran 4,0 - 8,5 (Anonim, 2018).

Terdapat 3 jenis kakao yang banyak ditanam yaitu kakao Forastero (bulk cocoa), Criolo (fine cocoa), dan hibrida (persilangan antara jenis Forastero dan Criolo). Fine cocoa atau Criolo lebih banyak diusahakan oleh perkebunan besar karena memiliki keunggulan dalam hal aroma dan cita rasa, sedangkan jenis bulk cocoa lebih sering ditemui pada perkebunan rakyat atau petani (Riana, 2014). Salah satu klon tanaman kakao yang banyak dibudidayakan yaitu KKM 22 dengan sifat kompatibel untuk melakukan penyerbukan sendiri namun hanya sebagian (Tim Penulis, 2008). Klon ini merupakan salah satu dari 35 klon yang rentan terhadap serangan Phythophthora palmivora (Rubiyo et al., 2010). Klon KKM 22 memiliki tipe perakaran tunggang dengan sebaran akar lateral yang rendah (Zakariyya, 2017). Selain itu, terdapat klon kakao RCC 71 yang memiliki kemampuan cukup baik jika digunakan sebagai entres (Sulle, 2007). Klon ini tergolong kedalam jenis Forastero yang berpotensi menghasilkan produktivitas yang tinggi (Limbongan, 2011).

Perbanyakan tanaman kakao terbagi menjadi 2 macam yaitu secara generatif dan secara vegetatif. Kakao lindak atau Forastero umumnya diperbanyak menggunakan benih dari klon-klon induk yang terpilih, namun sekarang kakao jenis ini juga sering ditemui diperbanyak secara vegetatif untuk meningkatkan mutu dan hasil. Sedangkan kakao mulia atau Criolo umumnya diperbanyak secara vegetatif (Susanto, 1994). Masing-masing cara perbanyakan memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga menjadi sangat penting untuk menentukan cara yang akan digunakan untuk proses perbanyakan. Perbanyakan secara vegetative memiliki keuntungan seperti tidak terjadinya segregasi sehingga keturunannya memiliki sifat yang relative sama dengan induknya, mampu menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak dalam kurun waktu singkat, dapat memanfaatkan klon unggul sebagai sumber entres, mampu menekan penyebaran hama, mudah pengerjaannya, serta memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi (Limbongan dan Djufry, 2013). Ketika tanaman kakao diperbanyak secara vegetatif dengan cara sambung pucuk memiliki kelebihan hemat waktu untuk menghasilkan bibit klonal yang siap tanam serta menghemat tempat yang digunakan (Ariani et al., 2017).

Dalam budidaya kakao, prinsip persiapan lahan yang dilakukan hampir sama dengan tanaman lainnya, yaitu pembuatan jadwal, pembersihan lahan, penentuan blok/petak, pembuatan jalan kebun, pengajiran untuk tanaman naungan maupun tanaman utama, pembuatan lubang tanam, dan pembuatan teras. Secara umum, pembuatan jadwal dilakukan untuk mendapat gambaran mengenai apa yang perlu dilakukan beserta dengan estimasi waktu pengerjaannya. Selanjutnya kegiatan pembersihan lahan dapat berupa pemotongan kayu-kayu dan pembongkaran tunggul, lalu penentuan petak atau blok yang dapat didasarkan pada batas-batas alami, selain itu dalam tahap ini akan terbentuk jalan sebagai jalur transportasi. Proses pemotongan kayu kecil dan semak belukar dengan cara dibabat atau dipotong rata dengan permukaan tanah. Kegiatan selanjutnya yaitu persiapan lahan dengan penanaman tanaman penutup tanah. Berbagai jenis tanaman penutup tanah yang dapat digunakan diantaranya Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides, dan Pueraria javanica. Penanaman tanaman penutup tanah harus disesuaikan dengan tanaman pokoknya. Langkah selanjutnya yaitu penentuan jarak tanam, beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan jarak tanam yaitu habitus tanaman, luas perakaran, jenis bahan tanam, keadaan iklim dan tanah, serta bagaimana pengelolaan tanaman tersebut (Susanto, 1994).

Kemudian dilanjutkan dengan penentuan pola tanam, pola tanam yang baik dapat menentukan jumlah optimal kakao, jumlah optimal tanaman penaung tetap, serta dapat menekan kerugian yang dapat ditimbulkan. Pola tanam kakao dapat dilakukan secara monokultur dengan pola segi empat (bujur sangkar) atau secara tumpangsari dengan pola tanam tetap (tanaman sampingan dan penaung yang menyesuaikan). Setelah ditentukan pola tanam yang sesuai, dilanjutkan dengan pemasangan ajir utama, tanaman penaung tetap, dan tanaman penaung sementara. Ketika kondisi lahan memiliki kemiringan >10% perlu dibuat teras yang mengikuti kontur dengan lebar yang disesuaikan dengan besar-kecilnya kemiringan lahan. Ada beberapa jenis teras yaitu teras datar (kemiringan <3%, daerah mudah meresap air), teras kridit (kemiringan 3-10%, daerah sulit menyerap air dengan curah hujan tinggi), teras guludan (kemiringan ±15%, dilengkapi saluran drainase sepanjang guludan), serta teras bangku (kemiringan 15-50%, dilengkapi bidang olah yang miring ke dalam sekitar 0,1% dengan saluran drainase). Tahap terakhir dari persiapan lahan yaitu pembuatan lubang tanam baik bagi penaung atau bagi kakao, untuk tanaman penaung biasanya ukuran lubang tanamnya yaitu 40x40x40 cm sedangkan untuk tanaman kakao cukup bervariasi yaitu antara 40x40x40 cm atau 60x60x60 cm tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan kepadatan tanah. Lubang tanam perlu dijemur sekitar 2-3 bulan untuk proses oksidasi dan penghilangan racun dalam tanah (Susanto, 1994).

Waktu penanaman antara kakao lindak dan kakao mulia sedikit berbeda, kakao lindak cenderung perlu ditanam lebih awal karena memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih kuat sehingga pada umur 4-5 bulan bibit kakao sudah siap tanam (Susanto, 1994). Pemenuhan kebutuhan hara dilakukan dengan pemberian pupuk dengan dosis 250 gram/tanaman UREA, 250 gram/tanaman TSP, dan 250 gram/tanaman KCl. Selain pemupukan, proses pemeliharaan tanaman kakao juga meliputi proses pemangkasan. Pemangkasan pada kakao terbagi menjadi 3 jenis yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk dilakukan ketika kakao TBM telah membentuk jorket hingga memasuki fase produktif. Pemangkasan pemeliharaan bertujuan untuk menghilangkan cabang yang sakit atau patah serta tunas air dengan frekuensi 1x dalam 1-2 bulan. Dan yang terakhir adalah pemangkasan produksi yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah dengan frekuensi 2x dalam satu tahun (Millaty et al., 2017).

Selain itu, proses pemeliharaan kakao juga meliputi pengendalian OPT, beberapa hama yang sering dijumpai pada saat budidaya diantaranya yaitu Penggerek buah kakao (Conopomorpha spp.), Kepik penghisap buah (Helopeltis spp.), Ulat kilan (Hyposidra talaka Walker), Penggerek batang atau cabang (Zeuzera coffea Nietn), dan Ulat api (Darna trima Moore). Beberapa macam pengendalian yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan karantina pada buah kakao dengan tidak memasukkan atau mendatangkan buah kakao dari lokasi sumber hama untuk dijadikan sebagai benih perbanyakan, melakukan pengerodongan buah muda dengan kantong plastik untuk melindungi buah dari serangan hama penggerek, dan melakukan rampasan atau panen serentak sehingga hama kehilangan sumber makanannya (Susanto, 1994). Tahapan selanjutnya adalah pemanenan. Kakao dapat dipanen ketika buah sudah mengalami perubahan warna kulit dan setelah safe mpembuahan hingga menjadi buah dan matang pada usia sekitar 5 buln (Sutomo et al., 2018). Panen pertama tanaman kakao dapat dilakukan pada umur 3 tahun setelah tanam dengan daya produksi 0,5 ton/ha/tahun dan dapat meningkat seiring dengan pertambahan usia tanaman hingga mencapai 1,7 ton/ha/tahun ketika usia 5 tahun setelah tanam (Siregar et al.,2010). Teknik pemanenan buah pada tingkat kematangan yang tepat dan metode pemanenan memiliki peran terhadap potensi terjadinya infeksi kapang pada buah kakao (Munarso dan Miskiyah, 2013). Selain itu teknik pemanenan yang kurang tepat mengakibatkan buah kakao tidak muncul pada musim buah berikutnya karena buah kakao hanya muncul pada bagian cabang tertentu (Wahyuni et al., 2019).

Selain panen, proses pasca panen juga tak kalah penting. Penanganan pasca panen dimulai sejak proses pemetikan buah, fermentasi, hingga pengeringan dan pengemasan. Umumnya proses fermentasi berlangsung secara alami dengan waktu beberapa hari. Tahap ini menjadi penting karena pada saat itu proses persiapan biji kakao basah menjadi biji kakao kering menjadi sangat penting sehingga dapat menghasilkan biji dengan mutu tinggi. Proses fermentasi kakao akan menimbulkan cita rasa, aroma, dan warna karena terjadi perubahan fisik, kimiawi, dan biologi selama proses tersebut.  Disisi lain, suhu udara pengeringan menjadi faktr penting dalam tahap pengeringan. Suhu udara akan berpengaruh terhadap waktu pengeringan dan mutu bahan yang dikeringkan. Proses pengeringan biji dengan waktu singkat atau dengansuhu tinggi mengakibatkan aroma asam dan memiliki kadar asam lebih tinggi dibandingkan dengan biji yang dijemur, sehingga diperlukan suhu pengeringan yang sesuai untuk mengeringkan biji (Hayati et al., 2012).  

 

III.             KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1.      Kakao merupakan tanaman tahunan yang tergolong dalam Family Malvaceae, Genus Theobroma, dan Species Theobroma cacao L. Mampu tumbuh optimal dengan kondisi ketinggian 0-600 mdpl, dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun, suhu maksimum 30-32oC suhu minimum 18-21oC, kondisi lahan dengan kemiringan <45% dan kedalaman olah <150 cm, memiliki komposisi struktur tanah berupa pasir 50%, debu 10-20%, dan lempung berpasir 30-40%, dan toleransi pH tanah dengan kisaran 4,0 - 8,5.

2.      Beberapa jenis kakao yang dibudidayakan adalah kakao hybrid yang merupakan hasil persilangan Forastero dengan Criolo. Contoh klon yang telah dikembangkan dan banyak dibudidayakan yaitu KKM 22 dan RCC 71. Klon KKM 22 memiliki kelemahan yaitu cukup rentan terhadap serangan P. palmivora. Klon RCC 71 merupakan salah satu klon yang unggul dan sangat mendukung produktivitas ketika dijadikan sebagai entres.

3.      Teknis budidaya kakao dimulai dari pembibitan yang menggunakan media yang diperbanyak secara vegetatif maupun generatif. Persiapan lahan meliputi proses pembuatan jadwal, pembersihan lahan, persiapan lahan, penanaman tanaman penutup tanah, penentuan pola tanam dan jarak tanam, pembuatan ajir, pembuatan teras, dan pembuatan lubang tanam yang dilanjutkan dengan proses penanaman. Pemeliharaan tanaman kakao berupa pemberian pupuk UREA, TSP, dan KCl dengan dosis masing-masing 250 gram/tanaman. Pemangkasan terdiri atas 3 jenis yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. OPT yang sering ditemui diantaranya yaitu penggerek batang, ulat api, penggerek buah, dan kepik yang penanganannya dilakukan dengan karantina buah calon benih tanaman, pengerodngan buah, dan rampasan. Pemanenan harus dilakukan secara tepat agar tidak menyebababkan kerusakan pada bantalan buah. Tahap pasca panen berupa fermentasi dan pengeringan.

4.      Berdasarkan karakteristik yang ada, lahan tersebut tergolng dalam kelas S3eh,wa,oa (sesuai marjinal).      


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2018. Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao). Diakses pada [https://disbun.kukarkab.go.id/].

Ariani, S.B., D.S.P.S. Sembiring, dan N.K. Sihaloho. 2017. Keberhasilan pertautan sambung pucuk pada kakao (Theobroma cacao L) dengan waktu penyambungan dan panjang entres berbeda. Jurnal Agroteknosains 1(2).

Hayati, R., Yusmanizar, Mustafril, dan H. Fauzi. 2012. Kajian fermentasi dan suhu pengeringan pada mutu kakao (Theobroma cacao L.). JTEP Jurnal Keteknikan Pertanian 26(2).

Jumanta. 2019. Buku Pintar Tumbuhan. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Limbongan, J. 2011. Kesiapan penerapan teknlogi sambung samping untuk mendukung program rehabilitasi tanaman kakao. Jurnal Litbang Pertanian 30(4).

Limbongan, J. dan F. Djufry. 2013. Pengembangan teknologi sambung pucuk sebagai alternative pilihan perbanyakan kakao. Jurnal Litbang Pertanian 32(4): 166-172.

Millaty, R., A. Anwar, dan M. S. Fitriani. 2017. Faktor teknik budidaya yang mempengaruhi produktivitas tanaman kakao (Theobroma cacao L.) di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

Munarso, S.J. dan Miskiyah. 2013. Penerapan sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) pada penanggulangan pascapanen kakao rakyat. Jurnal Standardisasi 16 (1): 17-30.

Riana. 2014. Prospek Cerah Budidaya Kakao. Diakses pada [https://www.jitunews.com/read/5946/prospek-cerah-budidaya-kakao].

Rubiyo, A. Purwantara, dan Sumarsono. 2010. Ketahanan 35 klon kakao terhadap infeksi Phythophthora palmivora Butl. berdasarkan uji Detached Pod. Jurnal Littri 16(4): 172-178.

Siregar, T.H.S., S.Riyadi, dan L. Nursaeni. 2010. Budidaya Coklat. Penerbit Swadaya, Jakarta.

Susanto, F.X. 1994. Tanaman Kakao: Budidaya dan Pengolahan Hasil. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Tim Penulis. 2008. Panduan Lengkap Kakao: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Sutomo, N., B.W. Hariyadi, dan M. Ali. 2018. Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao). FAPERTA UMS, Surabaya.

Wahyuni, S., J.I.B. Hutubessy, dan F.L. Witi. 2019. Peningkatan produksi kakao melalui penerapan teknologi kakao sehat pada kelompok tani “Wonga Mengi” di Desa Kedebodu, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur. PRIMA Journal of Community Empowering and Services 3(2): 56-62.

Zakariyya, F. 2017. Karakter morfologi perakaran beberapa semaian klon kakao asal biji. AGROPROSS Natinal Conference Proceeding of Agriculture.