KAKAO (Theobroma cacao L.)
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kakao merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunan yang hasil produknya berupa coklat. Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis dan peluang pasar yang cukup tinggi. Kakao merupakan satu-satunya diantara 22 jenis keluarga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Dewasa ini minat masyarakat terhadap produk dari tanaman ini kian meningkat. Hal ini terlihat pada tingkat kecenderungan pasar dunia yang semakin tinggi dengan kebutuhan hasil panen dengan rata-rata 1,5 juta ton per tahun. Seperti yang telah diketahui bahwa kakao juga merupakan komoditas ekspor urutan ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Tanaman ini merupakan salah satu komoditas ekspor yang tergolong cukup potensial untuk menambah devisa negara. Kakao juga memiliki segmen pasar yang cukup stabil dengan harga yang relatif mahal, sehingga usaha peningkatan kualitas hasil selalu dilakukan agar kakao tetap penting sebagai salah satu barang dagang non migas.
B. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui karakter kakao
b. Mengetahui beberapa jenis kakao
c. Mengetahui teknis budidaya tanaman
d. Mengetahui kesesuaian lahan berdasarkan karakteristik lahan
II.
ISI
Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas budidaya
tahunan yang menghasilkan produk jadi berupa coklat. Secara umum, berikut
adalah klasifikasi tanaman kakao:
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliosidae
Ordo : Malvales
Familly : Malvaceae
(Sterculiaceae)
Genus : Theobroma
Species : Theobroma cacao (Jumanta, 2019).
Kakao merupakan tanaman yang berasal dari
wilayah Amerika Selatan. Tanaman ini memiliki ketinggian mencapai 10 meter,
namun untuk industri biasanya tidak dibiarkan melebihi 5 meter dan diperbesar
secara menyamping untuk memperbanyak cabang bakal buah yang produktif. Buah
kakao muncul dari bunga yang telah diserbuki dengan tipe penyerbukan cross-pollinate. Buah berwarna
hijau-ungu pada saat muda dan berwarna kuning ketika telah masak. Biji pada
buah tumbuh dari bagian pangkal buah, di bagian dalam biji dilindungi oleh
salut biji (aril) lunak berwarna putih atau yang biasa disebut pulp (Jumanta, 2019). Untuk mendapatkan
hasil produksi yang maksimal, penanaman tanaman tahunan terutama kakao
hendaknya disesuaikan dengan syarat tumbuh yang dikehendakinya karena tanaman
ini akan hidup dalam kurun waktu yang lama sehingga pemilihan lokasi hendaknya
disesuaikan. Beberapa syarat tumbuh tanaman kakao yaitu menghendaki ketinggian
0-600 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun dan
suhu maksimum 30-32oC suhu minimum 18-21oC, kondisi lahan
dengan kemiringan <45% dan kedalaman olah <150 cm, memiliki komposisi
struktur tanah berupa pasir 50%, debu 10-20%, dan lempung berpasir 30-40%, dan
toleransi pH tanah dengan kisaran 4,0 - 8,5 (Anonim, 2018).
Terdapat 3 jenis kakao yang banyak ditanam
yaitu kakao Forastero (bulk cocoa), Criolo (fine cocoa), dan
hibrida (persilangan antara jenis Forastero
dan Criolo). Fine cocoa atau Criolo
lebih banyak diusahakan oleh perkebunan besar karena memiliki keunggulan dalam
hal aroma dan cita rasa, sedangkan jenis bulk
cocoa lebih sering ditemui pada perkebunan rakyat atau petani (Riana,
2014). Salah satu klon tanaman kakao yang banyak dibudidayakan yaitu KKM 22
dengan sifat kompatibel untuk melakukan penyerbukan sendiri namun hanya
sebagian (Tim Penulis, 2008). Klon ini merupakan salah satu dari 35 klon yang
rentan terhadap serangan Phythophthora
palmivora (Rubiyo et al., 2010). Klon
KKM 22 memiliki tipe perakaran tunggang dengan sebaran akar lateral yang rendah
(Zakariyya, 2017). Selain itu, terdapat klon kakao RCC 71 yang memiliki
kemampuan cukup baik jika digunakan sebagai entres (Sulle, 2007). Klon ini
tergolong kedalam jenis Forastero
yang berpotensi menghasilkan produktivitas yang tinggi (Limbongan, 2011).
Perbanyakan tanaman kakao terbagi menjadi
2 macam yaitu secara generatif dan secara vegetatif. Kakao lindak atau Forastero umumnya diperbanyak
menggunakan benih dari klon-klon induk yang terpilih, namun sekarang kakao
jenis ini juga sering ditemui diperbanyak secara vegetatif untuk meningkatkan
mutu dan hasil. Sedangkan kakao mulia atau Criolo
umumnya diperbanyak secara vegetatif (Susanto, 1994). Masing-masing cara
perbanyakan memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga menjadi sangat penting
untuk menentukan cara yang akan digunakan untuk proses perbanyakan. Perbanyakan
secara vegetative memiliki keuntungan seperti tidak terjadinya segregasi
sehingga keturunannya memiliki sifat yang relative sama dengan induknya, mampu
menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak dalam kurun waktu singkat, dapat
memanfaatkan klon unggul sebagai sumber entres, mampu menekan penyebaran hama,
mudah pengerjaannya, serta memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi
(Limbongan dan Djufry, 2013). Ketika tanaman kakao diperbanyak secara vegetatif
dengan cara sambung pucuk memiliki kelebihan hemat waktu untuk menghasilkan
bibit klonal yang siap tanam serta menghemat tempat yang digunakan (Ariani et al., 2017).
Dalam budidaya kakao, prinsip persiapan
lahan yang dilakukan hampir sama dengan tanaman lainnya, yaitu pembuatan
jadwal, pembersihan lahan, penentuan blok/petak, pembuatan jalan kebun,
pengajiran untuk tanaman naungan maupun tanaman utama, pembuatan lubang tanam,
dan pembuatan teras. Secara umum, pembuatan jadwal dilakukan untuk mendapat
gambaran mengenai apa yang perlu dilakukan beserta dengan estimasi waktu
pengerjaannya. Selanjutnya kegiatan pembersihan lahan dapat berupa pemotongan
kayu-kayu dan pembongkaran tunggul, lalu penentuan petak atau blok yang dapat
didasarkan pada batas-batas alami, selain itu dalam tahap ini akan terbentuk
jalan sebagai jalur transportasi. Proses pemotongan kayu kecil dan semak
belukar dengan cara dibabat atau dipotong rata dengan permukaan tanah. Kegiatan
selanjutnya yaitu persiapan lahan dengan penanaman tanaman penutup tanah.
Berbagai jenis tanaman penutup tanah yang dapat digunakan diantaranya Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides, dan Pueraria javanica. Penanaman tanaman
penutup tanah harus disesuaikan dengan tanaman pokoknya. Langkah selanjutnya
yaitu penentuan jarak tanam, beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam
penentuan jarak tanam yaitu habitus tanaman, luas perakaran, jenis bahan tanam,
keadaan iklim dan tanah, serta bagaimana pengelolaan tanaman tersebut (Susanto,
1994).
Kemudian dilanjutkan dengan penentuan pola
tanam, pola tanam yang baik dapat menentukan jumlah optimal kakao, jumlah
optimal tanaman penaung tetap, serta dapat menekan kerugian yang dapat
ditimbulkan. Pola tanam kakao dapat dilakukan secara monokultur dengan pola
segi empat (bujur sangkar) atau secara tumpangsari dengan pola tanam tetap
(tanaman sampingan dan penaung yang menyesuaikan). Setelah ditentukan pola
tanam yang sesuai, dilanjutkan dengan pemasangan ajir utama, tanaman penaung
tetap, dan tanaman penaung sementara. Ketika kondisi lahan memiliki kemiringan
>10% perlu dibuat teras yang mengikuti kontur dengan lebar yang disesuaikan
dengan besar-kecilnya kemiringan lahan. Ada beberapa jenis teras yaitu teras
datar (kemiringan <3%, daerah mudah meresap air), teras kridit (kemiringan
3-10%, daerah sulit menyerap air dengan curah hujan tinggi), teras guludan
(kemiringan ±15%, dilengkapi saluran drainase sepanjang guludan), serta teras
bangku (kemiringan 15-50%, dilengkapi bidang olah yang miring ke dalam sekitar
0,1% dengan saluran drainase). Tahap terakhir dari persiapan lahan yaitu
pembuatan lubang tanam baik bagi penaung atau bagi kakao, untuk tanaman penaung
biasanya ukuran lubang tanamnya yaitu 40x40x40 cm sedangkan untuk tanaman kakao
cukup bervariasi yaitu antara 40x40x40 cm atau 60x60x60 cm tergantung dari
tingkat kesuburan tanah dan kepadatan tanah. Lubang tanam perlu dijemur sekitar
2-3 bulan untuk proses oksidasi dan penghilangan racun dalam tanah (Susanto,
1994).
Waktu penanaman antara kakao lindak dan
kakao mulia sedikit berbeda, kakao lindak cenderung perlu ditanam lebih awal
karena memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih kuat sehingga pada umur
4-5 bulan bibit kakao sudah siap tanam (Susanto, 1994). Pemenuhan kebutuhan
hara dilakukan dengan pemberian pupuk dengan dosis 250 gram/tanaman UREA, 250
gram/tanaman TSP, dan 250 gram/tanaman KCl. Selain pemupukan, proses
pemeliharaan tanaman kakao juga meliputi proses pemangkasan. Pemangkasan pada
kakao terbagi menjadi 3 jenis yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan
pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk dilakukan ketika
kakao TBM telah membentuk jorket hingga memasuki fase produktif. Pemangkasan
pemeliharaan bertujuan untuk menghilangkan cabang yang sakit atau patah serta
tunas air dengan frekuensi 1x dalam 1-2 bulan. Dan yang terakhir adalah
pemangkasan produksi yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah
dengan frekuensi 2x dalam satu tahun (Millaty et al., 2017).
Selain itu, proses pemeliharaan kakao juga
meliputi pengendalian OPT, beberapa hama yang sering dijumpai pada saat
budidaya diantaranya yaitu Penggerek buah kakao (Conopomorpha spp.), Kepik penghisap buah (Helopeltis spp.), Ulat kilan (Hyposidra
talaka Walker), Penggerek batang atau cabang (Zeuzera coffea Nietn), dan Ulat api (Darna trima Moore). Beberapa macam pengendalian yang bisa dilakukan
yaitu dengan melakukan karantina pada buah kakao dengan tidak memasukkan atau
mendatangkan buah kakao dari lokasi sumber hama untuk dijadikan sebagai benih
perbanyakan, melakukan pengerodongan buah muda dengan kantong plastik untuk
melindungi buah dari serangan hama penggerek, dan melakukan rampasan atau panen
serentak sehingga hama kehilangan sumber makanannya (Susanto, 1994). Tahapan
selanjutnya adalah pemanenan. Kakao dapat dipanen ketika buah sudah mengalami
perubahan warna kulit dan setelah safe mpembuahan hingga menjadi buah dan
matang pada usia sekitar 5 buln (Sutomo et
al., 2018). Panen pertama tanaman kakao dapat dilakukan pada umur 3 tahun
setelah tanam dengan daya produksi 0,5 ton/ha/tahun dan dapat meningkat seiring
dengan pertambahan usia tanaman hingga mencapai 1,7 ton/ha/tahun ketika usia 5
tahun setelah tanam (Siregar et al.,2010).
Teknik pemanenan buah pada tingkat kematangan yang tepat dan metode pemanenan
memiliki peran terhadap potensi terjadinya infeksi kapang pada buah kakao
(Munarso dan Miskiyah, 2013). Selain itu teknik pemanenan yang kurang tepat
mengakibatkan buah kakao tidak muncul pada musim buah berikutnya karena buah
kakao hanya muncul pada bagian cabang tertentu (Wahyuni et al., 2019).
Selain panen, proses pasca panen juga tak
kalah penting. Penanganan pasca panen dimulai sejak proses pemetikan buah,
fermentasi, hingga pengeringan dan pengemasan. Umumnya proses fermentasi
berlangsung secara alami dengan waktu beberapa hari. Tahap ini menjadi penting
karena pada saat itu proses persiapan biji kakao basah menjadi biji kakao
kering menjadi sangat penting sehingga dapat menghasilkan biji dengan mutu
tinggi. Proses fermentasi kakao akan menimbulkan cita rasa, aroma, dan warna
karena terjadi perubahan fisik, kimiawi, dan biologi selama proses
tersebut. Disisi lain, suhu udara
pengeringan menjadi faktr penting dalam tahap pengeringan. Suhu udara akan
berpengaruh terhadap waktu pengeringan dan mutu bahan yang dikeringkan. Proses
pengeringan biji dengan waktu singkat atau dengansuhu tinggi mengakibatkan
aroma asam dan memiliki kadar asam lebih tinggi dibandingkan dengan biji yang
dijemur, sehingga diperlukan suhu pengeringan yang sesuai untuk mengeringkan
biji (Hayati et al., 2012).
III.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1.
Kakao merupakan
tanaman tahunan yang tergolong dalam Family
Malvaceae, Genus Theobroma, dan Species Theobroma cacao L. Mampu tumbuh
optimal dengan kondisi ketinggian 0-600 mdpl, dengan curah hujan 1.500-2.000
mm/tahun, suhu maksimum 30-32oC suhu minimum 18-21oC,
kondisi lahan dengan kemiringan <45% dan kedalaman olah <150 cm, memiliki
komposisi struktur tanah berupa pasir 50%, debu 10-20%, dan lempung berpasir
30-40%, dan toleransi pH tanah dengan kisaran 4,0 - 8,5.
2.
Beberapa jenis
kakao yang dibudidayakan adalah kakao hybrid
yang merupakan hasil persilangan Forastero
dengan Criolo. Contoh klon yang
telah dikembangkan dan banyak dibudidayakan yaitu KKM 22 dan RCC 71. Klon KKM
22 memiliki kelemahan yaitu cukup rentan terhadap serangan P. palmivora. Klon RCC 71 merupakan salah satu klon yang unggul dan
sangat mendukung produktivitas ketika dijadikan sebagai entres.
3.
Teknis budidaya
kakao dimulai dari pembibitan yang menggunakan media yang diperbanyak secara
vegetatif maupun generatif. Persiapan lahan meliputi proses pembuatan jadwal,
pembersihan lahan, persiapan lahan, penanaman tanaman penutup tanah, penentuan
pola tanam dan jarak tanam, pembuatan ajir, pembuatan teras, dan pembuatan
lubang tanam yang dilanjutkan dengan proses penanaman. Pemeliharaan tanaman kakao
berupa pemberian pupuk UREA, TSP, dan KCl dengan dosis masing-masing 250
gram/tanaman. Pemangkasan terdiri atas 3 jenis yaitu pemangkasan bentuk,
pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi. OPT yang sering ditemui
diantaranya yaitu penggerek batang, ulat api, penggerek buah, dan kepik yang
penanganannya dilakukan dengan karantina buah calon benih tanaman, pengerodngan
buah, dan rampasan. Pemanenan harus dilakukan secara tepat agar tidak
menyebababkan kerusakan pada bantalan buah. Tahap pasca panen berupa fermentasi
dan pengeringan.
4.
Berdasarkan
karakteristik yang ada, lahan tersebut tergolng dalam kelas S3eh,wa,oa (sesuai
marjinal).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2018. Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma
cacao). Diakses pada [https://disbun.kukarkab.go.id/].
Ariani,
S.B., D.S.P.S. Sembiring, dan N.K. Sihaloho. 2017. Keberhasilan pertautan
sambung pucuk pada kakao (Theobroma cacao
L) dengan waktu penyambungan dan panjang entres berbeda. Jurnal
Agroteknosains 1(2).
Hayati,
R., Yusmanizar, Mustafril, dan H. Fauzi. 2012. Kajian fermentasi dan suhu
pengeringan pada mutu kakao (Theobroma
cacao L.). JTEP Jurnal Keteknikan Pertanian 26(2).
Jumanta.
2019. Buku Pintar Tumbuhan. Penerbit Gramedia, Jakarta.
Limbongan,
J. 2011. Kesiapan penerapan teknlogi sambung samping untuk mendukung program
rehabilitasi tanaman kakao. Jurnal Litbang Pertanian 30(4).
Limbongan,
J. dan F. Djufry. 2013. Pengembangan teknologi sambung pucuk sebagai
alternative pilihan perbanyakan kakao. Jurnal Litbang Pertanian 32(4): 166-172.
Millaty,
R., A. Anwar, dan M. S. Fitriani. 2017. Faktor teknik budidaya yang
mempengaruhi produktivitas tanaman kakao (Theobroma
cacao L.) di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Fakultas Pertanian
Universitas Jambi.
Munarso,
S.J. dan Miskiyah. 2013. Penerapan sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) pada penanggulangan
pascapanen kakao rakyat. Jurnal Standardisasi 16 (1): 17-30.
Riana.
2014. Prospek Cerah Budidaya Kakao. Diakses pada [https://www.jitunews.com/read/5946/prospek-cerah-budidaya-kakao].
Rubiyo,
A. Purwantara, dan Sumarsono. 2010. Ketahanan 35 klon kakao terhadap infeksi Phythophthora palmivora Butl.
berdasarkan uji Detached Pod. Jurnal
Littri 16(4): 172-178.
Siregar,
T.H.S., S.Riyadi, dan L. Nursaeni. 2010. Budidaya Coklat. Penerbit Swadaya,
Jakarta.
Susanto,
F.X. 1994. Tanaman Kakao: Budidaya dan Pengolahan Hasil. Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
Tim
Penulis. 2008. Panduan Lengkap Kakao: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga
Hilir. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Sutomo,
N., B.W. Hariyadi, dan M. Ali. 2018. Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao). FAPERTA UMS, Surabaya.
Wahyuni,
S., J.I.B. Hutubessy, dan F.L. Witi. 2019. Peningkatan produksi kakao melalui
penerapan teknologi kakao sehat pada kelompok tani “Wonga Mengi” di Desa
Kedebodu, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
PRIMA Journal of Community Empowering and Services 3(2): 56-62.
Zakariyya, F. 2017. Karakter morfologi perakaran beberapa semaian klon kakao asal biji. AGROPROSS Natinal Conference Proceeding of Agriculture.