Rabu, 02 Desember 2020

Praktikum KPKT Acara 1: Kesuburan Tanah

 

Nama   : Anissa Pusparani

NIM    :18/430496/PN/15813

ACARA 1

KESUBURAN TANAH

Pelaksanaan praktikum mandiri Acara 1 Kesuburuan Tanah dimulai pada tanggal 29 September 2020. Pada acara ini, kita menggunakan 2 macam tanah yaitu tanah sawah dan tanah tegalan. 

                               

                                                       (a)                                            (b)

Gambar 1. Proses pengambilan tanah sawah

    
     (a)                                            (b)

Gambar 2. Proses pengambilan tanah tegalan

Setelah tanah diambil, kemudian dilakukan langkah selanjutnya yaitu pemberian perlakuan terhadap 2 macam tanah, pada tanah sawah diberi 3 macam perlakuan yaitu tanah (1), tanah:kompos:pasir (1:1:1), dan tanah:kompos (2:1). Pemberian 3 macam perlakukan juga dilakukan kepada sampel tanah tegalan. Untuk itu pada acara ini digunakan 2 bahan yang berbeda yaitu tanah sawah dan tanah tegalan dan yang diaplikasikan 3 macam perlakuan sehingga didapatkan 6 macam perlakuan.

                                    

                                                                    

Gambar 3. Proses pemberian perlakuan pada masing-masing tanah

Keterangan:

            S: Sawah                                             1: Perlakuan Tanah

            T: Tegal                                               2. Perlakuan Tanah:Kompos:Pasir (1:1:1)

                                                                        3. Perlakuan Tanah:Kompos (2:1)

Selanjutnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman diamati selama 5 minggu dan dilakukan pengukuran setiap 1 minggu sekali, berikut adalah tabel hasil pengamatan pertumbuhan tanaman Kedelai (Glycine max)

  Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan tanaman kedelai selama 5 minggu

Perlakuan

Minggu ke-

1

2

3

4

5

S1

-

-

4 cm

4 cm

4 cm

S2

-

-

-

-

-

S3

7,3 cm

15,9 cm

28,7 cm

28,7 cm

28,7 cm

T1

5 cm

9,4 cm

20,1 cm

20,1 cm

20,1 cm

T2

6 cm

11,7 cm

18,2 cm

18,2 cm

18,2 cm

T3

7,5 cm

16,2 cm

19,5 cm

19,5 cm

19,5 cm

            Tabel 2. Hasil pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman kedelai selama 5 minggu

Perlakuan

Minggu ke-

1

2

3

4

5

S1

0

0

2

2

2

S2

-

-

-

-

-

S3

1

1

3

3

3

T1

2

2

3

3

3

T2

1

2

2

2

2

T3

1

2

3

3

3

Berdasarkan hasil pengamatan diatas, terlihat bahwa pada minggu ke-3, 4, dan 5 terjadi stagnasi pertumbuhan tanaman, hal tersebut dapat terjadi oleh beberapa faktor seperti curah hujan, intensitas cahaya matahari, dan media tempat tumbuhnya. Selama masa pengamatan, terjadi hujan yang cukup deras ketika malam hingga dini hari, hal ini menyebabkan kerusakan pada morfologi tanaman seperti patahnya titik tumbuh tanaman serta tingginya kandungan air pada tanah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruminta et al (2020) juga menunjukkan korelasi positif atau searah antara tingkat pertumbuhan tanaman dengan perubahan salah satu unsur iklim yang berupa curah hujan. Battisti et al (2017) juga menjelaskan bahwa ketika interval hujan yang tinggi dapat mengakibatkan peningkatan limpasan, resapan air, dan drainase dalam.

Selain itu, terlihat bahwa pertumbuhan tinggi tanaman menunjukkan hasil yang cukup signifikan pada minggu ke-2 menuju minggu ke-3, hal ini dapat disebabkan karena peletakan polybag berada dibawah naungan serta mendapatkan intensitas cahaya yang tidak maksimal. Hal tersebut sesuai dengan Sutopo (2019) bahwa tanaman yang mengalami cekaman intensitas cahaya rendah mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman untuk meningkatkan efisiensi penangkapan cahaya, selain itu faktor  kualitas dan kuantitas cahaya yang didapatkan oleh tanaman mampu mempengaruhi beberapa indikator terutama pada fase vegetatif tanaman kedelai seperti ukuran panjang, diameter batang, dan kepadatan batang. Selain itu pemberian 3 macam perlakuan pada 2 jenis tanah menunjukkan hasil yang cukup berbeda, seperti yang terlihat pada kondisi iklim dan penerimaan intensitas cahaya matahari yang sama, tanah jenis tegalan memberikan hasil yang lebih baik dibandinkan dengan tanah sawahan

Kemudian pada minggu terakhir diamati panjang akar tanaman dan didapatkan hasil seperti pada tabel berikut

Tabel 3. Hasil pengamatan panjang akar pada minggu ke-5

Perlakuan

S1

S2

S3

T1

T2

T3

6,5 cm

-

7,2 cm

7,8 cm

8,4 cm

8,6 cm

Pada tabel 3 terlihat bahwa hingga pada minggu ke-5, tanaman dengan perlakuan S2 yaitu tanah sawah dengan komposisi tanah:kompos:pasir (1:1:1) tidak menunjukkan adanya pertumbuhan tanaman. hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu pertumbuhan tanaman dan jumlah daun pada minggu ke-3 hingga ke-5 tidak terjadi peningkatan angka dikarenakan titik tumbuh tanaman telah rusak akibat diterjang curah hujan yang cukup deras meskipun telah ditutupi sebagian oleh naungan. 

 

REFERENSI

Battisti, R., Sentelhas, P.C., dan Boote, K.J. 2017. Sensitivity and requirement of improvements of four soybean crop simulation models for climate change studies in Southern Brazil. International Journal of Biometeorology

Ruminta, Irwan, A.W., Nurmala, T., dan Ramadayanti, G. 2020. Analisi dampak perubahan iklim terhadap produksi kedelai dan pilihan adaptasi strategisnya pada lahan tadah hujan di Kabupaten Garut. Jurnal Kultivasi 19 (2)

Sutopo, A. 2019. Pengaruh naungan terhadap beberapa karakter morfologi dan fisiologi pada varietas kedelai ceneng. Jurnal Citra Widya Edukasi 11 (1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar