Nama :
Anissa Pusparani
NIM :
18/430496/PN/15813
ACARA
3
MEMBUAT KOMPOS
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia, peningkatan sampah atau limbah dari rumah tangga semakin meningkat. Apabila kondisi tersebut tidak dibarengi dengan upaya untuk pengurangan atau pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan maka dapat menyebabkan akumulasi limbah yang mampu mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan. Salah satu upaya pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan adalah dengan pembuatan kompos. Kompos adalah hasil perombakan bahan organik menjadi bentuk akhir kompos yang memiliki nilai C/N yang rendah (Amalia W dan Widiyaningrum, 2016). Bahan-bahan organic yang digunakan dapat berupa daun-daun, sampah dapur, jerami dan rumput, batang dan ranting, serta kotoran hewan (Suryati, 2014). Proses pengomposan dalam kegiatan pembuatan kompos merupakan proses dekomposisi bahan organik yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai dekomposer (Utomo dan Nurdiana, 2018). Dalam kegiatan pembuatan kompos ini dilaksanakan selama 2 minggu mulai tanggal 15 November – 29 November 2020, dengan menggunakan bahan seperti pada Gambar 1. Selanjutnya limbah yang masih berukuran besar dipotong-potong terlebih dahulu menjadi ukuran yang lebih kecil seperti pada Gambar 2. Setelah itu semua bahan yang telah siap dimasukkan ke dalam ember seperti pada Gambar 3.
Gambar 1. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos
Gambar 2. Proses pemotongan bahan dasar kompos menjadi partikel yang lebih kecil
Gambar 3. Bahan yang telah siap dimasukkan ke ember
lalu dicampur
Selanjutnya ember ditutup dengan rapat karena metode yang dipilih adalah metode anaerob sehingga harus dipastikan bahwa tidak terdapat lubang atau celah untuk keluar masuknya udara sehingga memperlancar proses dekomposisi. Pada saat hari ke-7 ember dibuka untuk dilakukan pengecekan serta pembalikan bahan agar mendapat suplai oksigen seperti pada Gambar 4.
(a) (b)
Gambar 4. Pembalikan kompos untuk memberikan suplai
oksigen dan mengurangi kelembaban
Setelah itu ember ditutup kembali dan ditunggu selama 7 hari untuk mendapatkan hasil akhir dari pembuatan kompos. Pada saat hari ke-14, ember dibuka untuk dilakukan panen dan didapatkan hasil seperti pada Gambar 5
Gambar 5. Hasil akhir produk berupa kompos
Berdasarkan
gambar tersebut, kompos yang telah jadi berwarna coklat gelap dan hampir
sebagian besar bentuk bahan dasarnya telah hancur, hal ini sesuai dengan dengan
Wulansari et al. (2020) bahwa kompos yang telah matang akan berwarna
coklat kehitaman dan memiliki bentuk fisik yang telah hancur. Proses perubahan
fisik pada kompos yang berumur 7 hari dengan umur 21 hari juga menunjukkan
hasil yang serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Ekawandani dan Kusuma
(2018) yang menyebutkan bahwa pada saat awal pengomposan, bentuk fisik yang
terlihat adalah masih berwarna sayuran asli dengan bau asli dari bahan dasar
pembuatnya, sedangkan pada hari ke-20 kompos berubah menjadi berwarna coklat
kehitaman dengan bau dan tekstur yang menyerupai tanah. Hal yang sama juga
disebutkan oleh Azim et al. (2017) bahwa kompos yang telah jadi atau
matang memiliki beberapa sifat seperti tidak mengeluarkan bau ammonia, memiliki
suhu rendah, berbentuk granular dengan bau yang khas, serta dapat dibedakan
dengan bahan dasar pembuatnya.
REFERENSI
Amalia W, D., dan Widiyaningrum, P. 2016.
Penggunaan EM4 dan MOL limbah tomat sebagai bioaktivator pada pembuatan kompos.
Life Science Journal 5 (1).
Azim, K., Soudi, B., Boukhari, S.,
Perissol, C., Roussos, S., dan Alami, I.T. 2017. Composting parameters and
compost quality: a literature review. Organic Agriculture Journal.
Ekawandani, N., dan Kusuma, A.A. 2018.
Pengomposan sampah organic (kubis dan kulit pisang) dengan menggunakan EM4.
Jurnal Ilmiah Berkala TEDC Politeknik TEDC Bandung 12 (1).
Suryati, T. 2014. Bebas Sampah dari Rumah.
Jakarta, AgroMedia Pustaka.
Utomo, P.B., dan Nurdiana, J. 2018.
Evaluasi pembuatan kompos oranik dengan menggunakan metode hot composting.
Jurnal Teknologi Lingkungan 2 (1).
Wulansari, R., Yuniarti, A., dan Rezamela,
E. 2020. Efektifitas pembuatan kompos limbah pabrik teh hijau (Tea Fluff)
menggunakan EM4 dan pupuk kendang sapi. Jurnal Soilrens 18 (1).









Tidak ada komentar:
Posting Komentar